RENUNGAN


             Mati apapun sebutannya ialah mati adanya, mahluk hidup semuanya saya yakin punya keyakinan bahwa dia akan mati, tetapi berani atau tidak saya hanya tahu mereka takut mati, seharusnya tidak perlu takut mati “ orang orang beriman hidupnya tidak untuk hidup tetapi hidupnya untuk maha hidup, hidupnya bukan untuk mati tetapi justru mati itulah untuk hidup, hidupnya untuk maha hidup,
dia tidak takut mati, dia tidak cari mati dan dia tidak lupakan mati, tapi justru dia rindukan mati, mengapa, karena mati bukanlah wafat, karena mati bukanlah akhir dari kehidupan ini, tetapi awal kehidupan sebenarnya, karena mati satu-satunya pintu berjumpa dengan-Nya, kebahagiaan bagi kekasih saat-saat detik-detik berjumpa dengannya, saat berjumpa itulah kebahagiaan bagi orang-orang beriman “ itu kata Arifin ilham. Yang jelas memang setiap mahluk-Nya memiliki sebuah jabtan yang sangat mulia “ camat ” calon mati, giliran saya yang harus tahu bahwa jabatan mulia itu ada pada saya tinggal bagaimana saya untuk menyikapinya, saya juga tidak tahu bagaimana saya akan mati, kapan saya akan mati dan di mana saya akan mati, berbagai fariasi saya menjumpai orang mati, tidak muda – tua – besar – kecil – laki-laki – perempuan hampir setiap detik di dunia ini nyawa mereka harus rela di setor kembali. Berbagai cara mereka mati, kecelakaan, di bunuh, sakit, jatuh dari gedung atau bahkan saat berbaring, duduk, berdiri dan berlari. Apa mungkin saya mati tanggal 28 januari 2058 ? angka yang cukup unik buat saya, umurnya juga sudah genap 70 tahun, kata tujuh yang bisa saya artikan sebagai tujuan yang sudah tercapai, Tuhan telah sibuk meluangkan waktunya untuk menghidupan saya, kehidupan yang penuh warna saatnya diganti dengan warna kenyataan, kehidupan yang kosong digantinya dengan kehidupan yang penuh isi, ya itulah istilah kosong adalah isi, isi adalah kosong. Hari itu saya tahu mata, hati, tangan, kaki akan menjadi saksi tiada dusta di dalam diri saya apa boleh buat Tuhan berkehendak seperti itu. 70 tahun itu semoga amanah dalam kehidupan saya sudah saya jalankan dengan benar, baik ibadah kepada Tuhan dan ibadah untuk keluarga serta seluruh manusia. Mungkin saya berlebihan jika meminta untuk di beri usia 70 tahun, terlalu banyak memang usia seperti itu, godaan kehidupan juga semakin sulit, tetapi sisa umur itulah yang seharusnya bisa menjadi perubahan putaran bumi ini, saya masih butuh waktu untuk belajar memaafkan, belajar iklas, belajar memperbaiki diri dan membahagiakan orang lain. Jika saya mati nanti, paling tidak yang saya tinggalkan menerima dengan iklas kepergian saya supaya langkah saya bertanggung jawab kepada Tuhan lebih mudah, tidak perlu mereka menangis atau bersedih. Jika saya mati nanti saya tidak ingin merepotkan banyak orang atau bahkan sampai membingungkan mereka mengurusi jasad saya. Kain kafan itulah yang kelak akan bersama saya, tidak perlu kembang atau karangan bunga, yang menyelamatkan saya kelak hanyalah tiga hal, ilmu yang sudah saya manfaatkan, shodaqoh jariyah yang sudah saya berikan, serta anak-anak sholeh/hah saya yang mendo’akan. Itupun jika semua yang saya lakukan dengan penuh keiklasan. Tetapi biar bagaimanapun janji saya kepada Tuhan tetap akan saya pertanggung jawabkan sendiri. Saya tidak berani GR akan di masukan surga, tetapi saya juga tidak mungkin tahan berada di neraka, saya harus dimana saya tidak tahu. Tetapi saya harus bertanggung jawab.




Mati
Mati apapun sebutannya ialah mati adanya
Kesakitan itu pasti segera datang
Datang juga tidak perlu ku undang
Tetapi harus ku persiapkan

Muhammad yang mulia
Engkau mati saja kesakitan
Padahal Engkau dijamin surga
Yang namanya sakit ya sakit

Lantas bagaimana denganku
Sakit seperti apa yang aku rasakan
Sekarat mati seribu satu sakit menjadi Satu
Susah jika harsu di bayangkan

Aku hanya tahu mati itu sakit
Aku hanya tahu siksa di kubur itu nyata
Aku hanya tahu aku harus bertanggung jawab
Saat aku mati, aku tidak tahu bagaimana matiku

Seperti orang pada umumnya
Aku sudah tak mungkin lagi pulang
Bajuku hanya berwarna putih
Keranda panjang itu kendaraanku
Keranda itu akan di panggul manusia

Rumahku kegelapan
Tidak mungkin ada pintu jendelanya
Saat itu aku tahu, aku harus sendiri
Ya, sendiri tanpa ada yang menemani

Selamat tinggal dunia
Cukup sudah aku bersamamu
Terlalu penuh hiasan yang ada padamu
Dan aku tahu semua akan berakhir

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa ibu bapakku sayangilah ke duanya sebagaimana mereka mengasuhku semenjak aku kecil
Ya Allah aku tidak pantas berada di dalam surga, aku juga tak tahan berada di dalam neraka

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un

Tidak ada komentar:

Posting Komentar