JANNU

Remaja itu pergi ke kota untuk merubah nasibnya, Jannu namanya, dengan bermodal dengkul, dia memberanikan diri untuk mendaftar UMPTN di Semarang. Beberapa test sudah dia lewati tetapi Tuhan berkata lain, Jannu tidak lolos dalam seleksinya. Dengan bermodal dengkul pula, dia menjual motornya untuk masuk ke Universitas swasta yang cukup baik dalam bidang IT nya, pada waktu itu fakultas ilmu computer yang akhirnya diambil, katanya biar agak keren kalau sudah lulus dibelakang nama jadi ada S.Kom nya, dengan mudah Jannu masuk di Universitas swasta itu bahkan dia masuk tanpa ikut test karena nilainya yang lumayan cukup, nilainya hanya sederhana tapi dia pernah mendapat peringkat 3 pada saat ujian nasional dalam satu sekolahnya bukan satu kelas lho.

Semua biaya kulyah ditanggung ibunya yang selama kurang lebih 23 tahun menjadi single perent serta mengasuh 7 anak yang masih kecil kecil, banyangin saja Jannu  punya 4 adek waktu ditinggal pergi ayahnya dia baru berumur kelas 2 SD. Masih kecil kecilkan. Ibunya hanya bisa memberi biaya kulyah tiap semester saja itupun diambilkan dari pensiunan ayahnya, untuk uang bulanan, entah mau buat makan, minum, mandi, pulsa, pakaian, buat bayar wc umum dan lain sebagainya ( disingkat ‘ dsb ‘ ya kalau tidak salah ) harus ditanggung sendiri sebagai latihan menjadi remaja yang mandiri. Karena ibunya juga harus memikirkan nasib adek adeknya yang sekolah. Kalau kedua kakaknya sudah pada nikah dan bisa mencukupi keluarganya sendiri, ya terkadang juga memberikan sebagian rezekinya untuk ibunya.

Motor kepunyaan dia satu satunya harus dia jual untuk uang gedung kulyahnya yang kurang lebih sekitar 12.000.000 yang bisa diangsur lima kali tiap semester, keinginannya untuk kulyah tidak memperdulikan lagi keadaan disekitarnya, dia tetap menjual motor, meskipun motornya hanya bisa laku 7 sampai 8 jutaan saja, lantas biaya yang lain bagaimana, “ hah itu gampang Tuhan Maha kaya kok , tidak perlu hawatir asal kita yakin pasti ada jalan “ dia menyisakan uang motor sekitar 1.500.000 untuk membeli sepeda gunung merah lengkap dengan helmnya, nah sepeda merah itulah yang kemudian menemani hari harinya untuk selalu gembira dalam perjalan kekampusnya. Mau memakai apa lagi kalau tidak bersepeda sekalipun berjalan kaki pasti tetap saya tempuh demi sebuah cita cita kata pemuda yang sangat membenci dengan rokok.

Bukan tempat kost yang dia cari, melainkan tempat yang bisa untuk melatih hidup tirakat dan dekat dengan Tuhannya, tempat apa lagi kalau bukan pondok pesantren, kebetulan dia juga punya saudara Kiai yang mengasuh di salah satu pondok Al Qur’an di daerah yang cukup jauh dari Universitasnya. Jauh tidak jadi masalah yang penting dia masih bisa menjadi seorang yang sederhana, bukan menikmati hidupnya untuk menuju kehidupan remaja Mall yang sok gaya dengan jen’s dan rok mininya, tidak bisa dibayangin deh nasib mereka saat tua nanti.

Jannu yang selalu menangis kalau terbayang wajah ibunya yang menjadi malaikat pada setiap nafasnya seakan tidak sebanding dengan apa yang dia berikan merasa tidak ada artinya meskipun yang dia berikan adalah seluruh isi dunia ini beserta langitnya, yang bisa mengimbangi saat ini adalah ketika dia bisa disebut anak yang berbakti pada orang tuanya. Awal di kota yang dia kenang hanyalah wajah senyum ibunda tercintanya.

Jannu pernah bekerja di salah satu Universitas negeri terkenal di kota itu, tidak disangka memang dengan modal ijazah SMK elektro dia bisa mengalahkan 250 pelamar yang 89% dengan gelar sarjana, dia termasuk beruntung karena yang membawa kedalam adalah kakaknya yang menjadi salah satu dosen mata kuliah computer di Universitas tersebut. Hanya satu minggu kerja dia langsung keluar dari pekerjaannya, karena kehidupan dia bukan sebagai pekerja bukan sebagai seoarang pencari kerja tetapi impiannya adalah memberi kesempatan orang lain untuk bekerja dan membuka pekerjaan buat mereka yang mencari kerja, hanya satu yang diharapkannya “ young entrepreneur ” pengusaha muda yang sukses dengan kerja keras dan kerja cerdasnya. Sebelumnya dia juga pernah menjadi Asisten dosen dikampusnya, uangnya dia gunakan untuk kebutuhan hidupnya selama satu bulan, tetapi dia merasa mendholimi teman temannya, menolong bukan karena ketulusan tetapi menolong karena uang, setelah dia berfikir seperti itu maka dia keluar dari tugas Asisten.

Kemampuan berdebat yang sulit dikalahkan juga pemikiran kritisnya pernah membawanya menjadi salah satu ketua umum Organisasi di universitasnya, hobinya berorganisasi tidak pernah dia keluhkan untuk memecahkan masalah bersama,mulai dari organisasi sepeda, orang alim, hingga komunitas orang orang kurang ajarpun pernah dia ikuti.

Ketika hidup di kota, dia sering mengambil hikmah dari setiap pengalaman yang dialaminya, yang paling dia gemari adalah mengikuti seminar atau bedah buku dan kajian kajian muslim, bukan konser musik juga bukan kontes model yang telanjang penuh kemasiatan, dan menyia-nyiakan waktu. Sering dia juga menghadiri konferensi di luar kota ,Jakarta, Bandung, Malang, hingga Kalimantanpun pernah dia ikuti, semua gratis, karena dia di kirim sebagai perwakilan Duta dikampusnya. Sampai di acara seminar sangat rugi baginya jika tidak mendapat doorprice atau hadiah dari panitia, hadiahnya memang biasa tetapi menurut dia hadiah itu sebagai nutrisi untuk sehari hari agar otaknya tidak kelaparan, apalagi kalau bukan buku , buku yang didapatkan saat seminar lumayan banyak, menuju hidup sukses, serial cinta, jalan surgaku, ya Allah aku jatuh cinta, wimax, bersabarlah maka Allah akan menolongmu, tuhan sang penggoda, ampuh cerdas tanpa batas. Itu semua dia dapatkan dengan menjawab pertanyaan dan kadang dengan memberikan pertanyaan, pertanyaannya memang terkadang kurang mutu tetapi dia berusaha memutu mutukan pertanyaannya itu, katanya sebagai wujud kepercaya diri. Satu doorprice unik pernah didapatkannya, boneka putih kecil dengan muka cemberut hanya satu yang diambil hikmahnya dari boneka itu, meskipun cemberut kok bisa masih lucu ya, karena boneka itu bukan manusia, coba deh kalau misal manusia cemberut bukanya jadi lucu tetapi serem hehe. Nah disitulah pentingnya hidup untuk selalu tersenyum, iklas menebar salam dan menyapa dengan manis siapa saja yang kita jumpai, manis manis laris manis.boneka itulah yang setiap harinya menemani dia ngobrol dan tidur, dia memberi nama si kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar