Ditengah
kesibukannya pagi hari tepat tanggal 20 julie sekitar pukul 09:00 am
Restu teringat akan keberangkatan May kepesantren disinilah yang membuat
sedikit resah pada diri Restue karena ia akan lama sekali tidak bisa
berkomunikasi dengan May karena dipesantren dilarang membawa alat
komunikasi, restue mencoba memanfaatkan waktu untuk mengobrol dengan May
sebelum Berangkat. Handpond mulai dihubungkan ternyata dia baru dalam
perjalanan pulang menuju rumah sehabis kulyah subuh, agak penasaran ada
suara laki-laki yang berada disampingnya, ternyata suara itu adalah
Dicky, laki-laki yang mencintai May yang dilihat dari kesholehannya dan
dialah wanita yang diidam-idamkan dalam hidupnya, ketika ada kesempatan
untuk memiliki yang lain diapun tetap besih kukuh untuk menunggu May.
Restue paham akan kecintaan dan hati mereka yang sudah saling dibukakan
Allah untuk menuju kebahagiaan dan hanya ada satu permohonan dalam doa
restue “ ya Allah jadikanlah Dicky menjadi lebih baik dan bertamah
keimanan serta kesholehannya, jodohkanlah mereka berdua dalam
kerhidoan-Mu, tunjukalah mereka dalam jalan-Mu yang akan kelak
membawanya kedalam Syurga-Mu Amin ” gundahnya jiwa Restue, kini dia tak
tahu apa yang harus dia lakukan apa yang harus dia bicarakan, tetapi
karena Restue selalu berusaha Ikhlas dan menerima dengan senang hati
tentang apa yang sudah Allah tuliskan untuknya, maka munculah kembali
semangat dalam hidupnya, dimana dia harus bersyukur dan bersabar atas
semua yang telah ia alami bukan untuk ditangisi ataupun disesali sebab
masa lalu takan pernah kembali juga tidak berkhayal jauh tentang hal ini
sebab masa depan masih misteri, semua hanya dikembalikan kepada Allah
karena Restu mengerti hanya Allah-lah yang membuat scenario ini, ia akan
mendapatkan yang lebih baik dari cinta yang dipilihkan Allah untuknya.
”
Inilah kisahku.bagaimana aku dapat mengakhirinya,bila dalam
kenyataannya tidak berakhir.aku tetap berlutut didekat peti mati
itu,sirna dalam keheningan,seraya memandang wajah kemalaikatan itu
sampai fajar merekah.kemudian aku bangkit lagi kekamark,terbungkuk
dibawah beban keabadian,tersangga oleh pedihnya penderitaanku..tiba tiba
aku menengadah,maka tampaklah dia teman hidupku,diantara kabut t ak
jauh dari halauan,aku tersentak kegirangan,tanganku menyongsong dan
berseru,mengapa engkau meninggalkan aku,kemana engkau pergi,dimana kau
selama ini,dekatlah denganku selalu,dan jangan kau tinggalkan aku ” (
Khahlil Gibran )
Tuhan Hanya Menggoda
Ada
hari-hari di mana tak semua harapanmu terpenuhi, ada hari-hari dimana
kebahagiaan seolah hanya di takdirkan untuk orang lain, bukan untukmu. Ada hari hari di mana keburukan seperti mengumpul dan menjadi palu godam yang mengantar nasibmu. Ada hari-hari dimana saat di butuhkan, teman-teman terdekat menjadi yang paling jauh. Ada
hari-hari di mana engkau telah merasa melakukan segalanya
sebaik-baiknya, mengikuti dengan hati-hati semua jalan Tuhan, tetapi
yang engkau terima adalah jalan cita.
Ya,
secara manusiawi kita wajar berteriak histeris, memaki-maki, dan
mempertanyakan dimana keadilan Tuhan. Ya, sebagian besar orang yang
pernah hidup dibagian bumi ini akan melakukan hal yang sama : untuk
semua hal buruk yang terjadi maka, jawaban yang paling masuk akal adalah
menyalahkan apa saja, siapa saja, selain diri sendiri tentu saja.
Tapi
jika engkau memilih menerima dengan besar hati dan bersyukur atas semua
‘keburukan’ yang terjadi : akan kau temukan di akhir hari bahwa
sebenarnya Tuhan hanya menggoda. ( M. Arief Budiman, dalam bukunya Tuhan
sang penggoda ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar