Cintanya
pernah diterima kurang lebih 6 jam, ditengah malam Jannu terbangun,
karena tidak bisa tidur Jannu mengirimkan sms ke Habibah, biasa sekedar
sms kata-kata bijak yang wajar seperti remaja umumnya. Habibah membalas sms remaja itu “ kakak lum
tidur ” Jannu terkejut padahal dia tidak menyangka smsnya akan dibalas,
ternyata Habibah juga belum tidur. Jannu kembali lagi membahas
cintanya, “ kenapa adek tidak mau menerima cinta kakak ” agak lama
memang balasan dari habibah “ semua terlalu cepat kak buat adek, mungkin
suatu saat adek bisa cinta sama kakak, tapi kakak harus bersabar dan
kakak mau nungguin adek “ Jannu belum membalas, hpnya sudah berbunyi lagi, “ kenapa kakak cinta sama adek ” dengan
kejujuran yang ada dihatinya dia menjawab “ sebagai seorang muslim,
siapa yang tidak ingin punya pendamping sholehah seperti adek ” habibah
seakan berubah pikiran “ kakak serius, adek masih kelas satu SMA kak ”
cinta Jannu sebenarnya bukan hanya sebuah kata, atau sebuah janji tetapi
sebuah cinta yang kelak akan dibawanya kesebuah ikatan dari Tuhan,
memang habibah masih SMA tetapi kelak dia juga akan dewasakan ? “ iya
kakak serius, suatu saat adek juga dewasa kok ”
perasaan apa yang sebenarnya membuat habibah berubah, Jannu seakan
tidak percaya dengan sms yang diterimanya “ bismillahirrohmanirrohim
,kakak sudah dapat cintanya adek ” dengan
hati yang gembira riang Jannu bertanya ” kenapa adek bisa menerima
cintanya kakak “ dibalas dengan cepat dan singkat “ sebagai seorang
muslimah, siapa yang tidak ingin punya pendamping sholeh seperti kakak ”
hanya bisa tersenyum Jannu bertanya ” adek serius ” tidak ada tiga
menit hp berbunyi “ iya adek serius, dah dulu ya kak, adek mau tidur
lagi ” hati Jannu yang pernah
tersakiti kini rasa sakit itu berubah menjadi madu, bagaikan pohon
durian memang cintanya berawal dari kulit yang tajam penuh duri tetapi
setelah kulit itu terkelupas maka kenikmatan yang akan dirasakannya.
“
Cinta hanya dari Tuhan awalnya dan kelak akan kesana akhirnya, jika
kamu mencintai seseorang dengan tulus ukuran ketulusan dan kesejatian
cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya, maka kamu adalah air maka
kamu adalah matahari ,ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu, ia
besar dan berbuah dari sinar cahayamu ” ( M. Anis mata )
Kesunyian
malam yang tenang menjadikan suasana rindu dengan sang bidadari yang di
cintainya, Jannu hanya ingin mengetahui seberapa besar perasaan cinta
habibah ke dia, “ adek serius cinta sama kakak apa tidak ? kalau tidak
cinta jangan dipaksakan dek ? kakak iklas kok , karena cinta tidak untuk
dipaksakan ” habibah yang tidak punya pulsa membalas dengan pulsa
uminya “ iklas ya iklas tapi sikap kakak ke adek itu yang bikin adek
merasa bersalah ” sebenarnya Jannu belum siap untuk melepaskan habibah dari hatinya, karena kenyataannya seperti ini mau bagaimana lagi !
Jannu
hanya ingin keputusan dari habibah yang pasti “ ya sudah di jawab saja
dek, adek cinta atau tidak sama kakak ” dibaca balasan habibah dari hp
remaja itu “ maaf kak, adek belum bisa cinta sama kakak ” kembali lagi
Jannu harus menahan rasa sakitnya, harapannya terkabul, Tuhan memang
adil, ketika Jannu ingin belajar keiklasan, nah disinilah saat yang
tepat untuk belajar ilmu ikhlas. Disaat dia tidak bisa mendapatkan apa
yang diharapkannya dan dia harus belajar merelakan hilangnya harapan
itu, mungkin bisa dikatakan air yang tenang tanpa minyak dan garam apa
hubungannya ya hehehehe
“
dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa apa yang
di ingini, yaitu wanita wanita, anak anak, harta yang banyak, dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, bnatang binatang ternak, dan sawah lading,
itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Tuhanlah tempat kembali
yang baik ”
Jalan sunyi
Akhirnya Kutempuh Jalan Yang Sunyi
Mendengarkan Lagu Bisu Sendiri Di Lubuk Hati
Puisi Yang Kusembunyikan Dari Kata - Kata
Cinta Yang Tak Kan Kutemukan Bentuknya
Apabila Kau Dengar Tangis Di Saat Lengang
Kalau Bulan Senyap dan Langit Meremang
Sesekali Temuilah Detak - Detik Pelaminan Ruh Sepi Hidupku
Agar Terjadi Saat Saling Mengusap Peluh Dendam Rindu
Kuanyam Dari dan Malam Dalam Nyanyian
Kerajut Waktu Dengan Darah Berlarut - Larut
Tak Habis Menimpukku Batu Demi Batu Kepalsuan
Demi Mengongkosi Penantian Ke Larut
(emha ainun najib )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar