Jannu
sudah tidak bisa menahan rasa rindunya untuk bertemu, beberapa hari
sebelumnya dia memang mengajak habibah untuk bertemu dengannya, meskipun
hanya lima menit saja tidak menjadi masalah baginya yang terpenting
bisa mengobati kerinduannya,
habibah bersedia menemuinya seperti biasa mereka janjian di masjid yang sama waktu pertama bertemu, sehabis menjalankan sholat asar dia bergegas meluncurkan sepedannya untuk menemui habibah yang di menjadi harapan baginya, baru berjarak dua puluh lima meter hp Jannu berbunyi, “ kak sudah berangkat, kalau sekarang adek lum bisa, tadi aslinya sudah siap berangkat, tapi motor mau di pakai umi, motor yang satunya takut kalau mogok, cuaca disini juga sangat gelap , maaf ya kak, tidak apa apakan ? ” cuaca sore itu memang sangat delap, siap untuk menurunkan air hujan yang deras, sedikit kecewa dia membaca sms dari habibah, dengan senyuman dia membalas sms “ ya sudah tidak apa apa dek n_n ” dia tidak marah sama sekali karena sepeda motor akan di pakai oleh ibu habibah, kalau sudah ada kata “ ibu “ dia benar benar tidak berani untuk mencampurinya, karena biar bagaimanapun segala keridhoan dari Tuhan berawal dari keridhoan orang tua.
habibah bersedia menemuinya seperti biasa mereka janjian di masjid yang sama waktu pertama bertemu, sehabis menjalankan sholat asar dia bergegas meluncurkan sepedannya untuk menemui habibah yang di menjadi harapan baginya, baru berjarak dua puluh lima meter hp Jannu berbunyi, “ kak sudah berangkat, kalau sekarang adek lum bisa, tadi aslinya sudah siap berangkat, tapi motor mau di pakai umi, motor yang satunya takut kalau mogok, cuaca disini juga sangat gelap , maaf ya kak, tidak apa apakan ? ” cuaca sore itu memang sangat delap, siap untuk menurunkan air hujan yang deras, sedikit kecewa dia membaca sms dari habibah, dengan senyuman dia membalas sms “ ya sudah tidak apa apa dek n_n ” dia tidak marah sama sekali karena sepeda motor akan di pakai oleh ibu habibah, kalau sudah ada kata “ ibu “ dia benar benar tidak berani untuk mencampurinya, karena biar bagaimanapun segala keridhoan dari Tuhan berawal dari keridhoan orang tua.
Sedikit
kecewa perasaan pemuda itu, tetapi Tuhan begitu adil dengan dia, kenap
harus di bikin kecewa, yang intinya harus bersyukur dengan apa yang
sudah Tuhan takdirkan, masih tergolong lumayan deh, misalkan saja
habibah memberi kabarnya waktu dia sudah berjalan 1000 meter atau
mungkin waktu dia sudah sampai disana, bisa bisa dia jadi botak,
dlongop, melamun sendiri nungguin air hujan, air hujan kok ditungguin, nungguin hujan reda kali hehehe
Sambil
belajar menata hatinya untuk menyukai apa apa yang dia dapatkan hari
itu, dia berharap suatu hari nanti akan dipertemukan Tuhan dengan
habibah dalam keadaan yang sebaik baiknya.
“ kalau kamu tidak bisa ngedapetin apa yang kamu sukai, belajarlah menyukai apa yang kamu dapetin ”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar