PUNCAK HARAPAN



Dinginnya puncak menjadi pelampiasaannya, hati terlukanya mendorong dia untuk menaiki gunung di salah satu kotanya, pukul 10 malam dia berangkat menaiki gunug itu, berusaha untuk sampai di sebuah puncak yang bisa melihat dataran dan matahari yang indah di esok hari, puncak yang seolah bisa menjadikan dekat dengan Tuhannya, satu tujuan dia menaiki gunung itu, dia hanya ingin bermunajat ditengah dinginnya gunug dan mengeluhkan semua isi hatinya kepada Tuhan, inilah Jannu yang setiap geraknya harus siap dengan masalah dan permasalahan, berbeda dengan anak kecil yang bisa polah dengan keceriaannya, ingin tertawa dan menertawakan orang lain juga bebas, ingin menangis dan menangisi orang lain juga bebas, masalah belum dia kenal bahkan dia juga tidak mengenalnya, saat itu yang dia inginkan adalah kembali kemasa kecil, kembali membawa bola di lengannya, menendang bola kekaca rumahnya orang, minum es teh dan makan sambil berjalan, mengambil mangga orang, berantem terus menangis, rebutan jajan dengan teman sekelas, menempelkan tulisan “ awas saya gila ” dipundak temannya, mencuri uang receh ibunya, tidur di atas pohon, menulis surat cinta tapi takut meberikannya. Mandi di sungai, bermain kelereng, bermain hujan, menikmati sebagian hidup kecilnya dengan bahagia. Dia terbangun dari lamunaannya, ah mana mungkin bisa menjadi kecil kembali, siklus manusia hanya tiga : di lahirkan, di tuakan dan di matikan itu kata biksu tong dalam film kera sakti, tapi sebenarnya manusia itu terdiri dari fase kanak kanak, fase remaja, fase dewasa dan dia akan kembali kekanak kanakan lagi selama belum mati. Tetapi fase kanak kanak ini berbeda dengan awal mulanya, dia harus mampu hidup dengan fase kanak kanak dalam usia tuanya. Menemukan cintanya memang sangat sulit tetapi sesulit apapun rintangannya pasti ada kemudahan.

“ bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh besama kesulitan itu ada kemudahan ”

Menikamti pemandangan bintang dan bulan di pegunungann, merasakan dinginnya angin malam, meluruskan kaki letihnya di rerumputan, membuatnya sadar bahwa “ sesuatu yang tidak dibawa mati, tidak perlu di kejar dengan mati matian ( emha ainun najib ) “ kini dia mengenal siapa dirinya sebab dia adalah sang pahlawan.
                                                                                
Dinginnya malam di tebing gunung tak sebanding dengan dinginnya perasaan saat dia kutemui
Letihnya kaki saat mendaki tak sebanding dengan letihnya benakku memikirkan dia setiap hari

Sakitnya pundak ini tak sebanding dengan sakitnya hatiku saat dia mengabaikan cintaku

Kencangnya angina di malam ini tak sebanding dengan ratapan hati ku saat dia sakiti

Derasnya air terjun ini tak sebanding dengan derasnya air mataku untuk mengikhlaskan dia pergi
Tuhan aku hanyalah aku, dengan segala kekuranganku
Tuhan jangan biarkan aku gundah, jangan biarkan aku gelisah
Tuhan biarkan air mata ini menjadikan diriku tabah
Tunjukan jalan-Mu, kuatkan jiwaku, tak pantas jika aku tertekan karena aku sang pahlawan. ( ehm ehm ehm )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar